Danrem 044/Gapo Resmikan Jembatan 120 Meter di Kuala 12, Anak Sekolah Tak Lagi Menyeberang dengan Styrofoam

Nasional, TNI168 Dilihat

Jejakkasus News | OKI — Komandan Korem (Danrem) 044/Garuda Dempo (Gapo) Brigjen TNI Khabib Mahfud, S.I.P., M.M., meresmikan Jembatan Perintis Garuda sepanjang 120 meter di Desa Kuala 12, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kamis (13/8/2026).

Peresmian tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat setempat setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan akses penghubung antardusun. Jembatan yang menghubungkan Dusun 1 dan Dusun 2 itu diharapkan tidak hanya memperlancar mobilitas warga, tetapi juga memberikan akses yang lebih aman bagi anak-anak menuju sekolah.

Danrem 044/Gapo mengatakan pembangunan jembatan tersebut berlangsung sekitar enam bulan. Tantangan utama berada pada kondisi geografis Desa Kuala 12 yang berada di wilayah perairan, sehingga hampir seluruh material konstruksi harus didatangkan dari luar desa.

“Pembangunan ini kurang lebih enam bulan karena kalau kita lihat kesulitannya cukup banyak. Semua material harus kita datangkan dari luar Kuala 12,” ujar Khabib Mahfud dalam keterangannya saat peresmian.

Menurutnya, Jembatan Perintis Garuda di Kuala 12 menjadi salah satu jembatan gantung dengan bentang cukup panjang di wilayah OKI. Panjang jembatan mencapai 120 meter dan keberadaannya memiliki arti strategis bagi sekitar 110 kepala keluarga yang bermukim di desa tersebut.

Khabib menuturkan, pembangunan jembatan itu tidak terlepas dari kondisi akses masyarakat sebelumnya, termasuk anak-anak sekolah yang pernah menyeberangi sungai menggunakan styrofoam.

Peristiwa tersebut sebelumnya memang sempat menjadi perhatian publik. Pemberitaan media pada 2021 menyebut sejumlah siswa SD di Kuala 12 menyeberangi sungai menggunakan styrofoam. Kondisi geografis wilayah yang berada di kawasan perairan menjadi salah satu tantangan dalam penyediaan akses penghubung.

Pada 2023, kondisi serupa kembali diberitakan setelah video anak sekolah asal Kuala 12 menyeberangi sungai menggunakan wadah styrofoam viral di media sosial. Saat itu, warga masih mengandalkan perahu sebagai sarana utama untuk menyeberang.

Kini, persoalan akses tersebut mulai mendapatkan solusi melalui pembangunan jembatan.

“Harapannya memudahkan masyarakat dan anak-anak untuk menyeberang dari Dusun 1 ke Dusun 2 maupun sebaliknya,” kata Danrem.

Memperluas Interaksi Warga

Khabib juga menyoroti dampak sosial dari hadirnya jembatan tersebut. Selama ini, keterbatasan transportasi sungai membuat sebagian warga tidak leluasa beraktivitas antarwilayah dalam satu desa.

Ia bahkan mendapatkan cerita dari warga bahwa ada masyarakat yang tinggal di salah satu dusun dan belum pernah berkunjung ke dusun lainnya.

Dengan tersedianya jembatan, mobilitas untuk kegiatan sosial, keagamaan, pendidikan, maupun aktivitas sehari-hari diharapkan menjadi jauh lebih mudah.

“Termasuk ada kegiatan-kegiatan sosial, pengajian, perkumpulan, itu lebih mudah. Anak-anak mau sekolah juga tidak perlu diantar orang tua harus naik perahu,” ujarnya.

Pembangunan tersebut juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, kepolisian, dan masyarakat. Danrem mengapresiasi keterlibatan Camat Tulung Selapan, pemerintah desa, jajaran kepolisian, TNI, serta masyarakat yang bergotong royong mendukung proses pembangunan.

Program Jembatan Perintis Garuda sendiri dilaksanakan di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur. Di sejumlah daerah lain, program serupa juga diarahkan untuk mendukung akses pendidikan, kesehatan, kegiatan ekonomi, serta mobilitas masyarakat.

Sebelum pembangunan dimulai, lokasi jembatan Kuala 12 juga telah disurvei oleh jajaran Kodim. Pemberitaan sebelumnya menyebut perjalanan menuju desa tersebut membutuhkan waktu sekitar enam jam, terdiri atas perjalanan darat menuju Dermaga Tulung Selapan dan dilanjutkan menggunakan jalur sungai. Saat itu, pembangunan jembatan dinilai sangat dinantikan karena akan membuka akses yang lebih mudah dan aman, khususnya bagi anak-anak sekolah.

Danrem Tekankan Sertifikasi dan Perawatan

Setelah pembangunan rampung, Khabib menegaskan bahwa aspek keselamatan harus menjadi perhatian utama. Ia mengatakan jembatan tersebut akan menjalani proses sertifikasi dan pemeriksaan teknis untuk memastikan keamanan serta kekuatan konstruksinya.

“Jembatan ini perlu standarisasi keamanan. Nanti akan datang dari Dinas PUPR, kemudian dari Kodam untuk memastikan keamanan dan kekuatan jembatan,” katanya.

Danrem juga mengingatkan masyarakat agar mematuhi ketentuan penggunaan jembatan, terutama terkait kapasitas beban. Menurutnya, penggunaan yang melebihi kemampuan konstruksi dapat memperpendek usia layanan jembatan.

“Kalau jembatan ini melebihi kapasitas maka umurnya juga akan pendek. Ini juga perlu perawatan,” tegasnya.

Setelah seluruh proses dinyatakan selesai, jembatan tersebut direncanakan diserahkan dari pihak Kodim kepada Dinas PUPR OKI untuk selanjutnya dikelola dan dirawat agar dapat digunakan masyarakat dalam jangka panjang.

Danrem: Jembatan Harus Menjadi Aset yang Dijaga Bersama

Danrem berharap masyarakat tidak hanya memanfaatkan jembatan tersebut, tetapi juga ikut menjaga keberadaannya. Menurutnya, pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil akan memberikan manfaat maksimal apabila dirawat bersama.

Senada dengan itu, Kapolsek Tulung Selapan Jamal, S.H., M.H., mengimbau warga agar menggunakan jembatan dengan tertib dan berhati-hati.

Ia berharap masyarakat dapat menjaga fasilitas tersebut sehingga mampu bertahan dalam waktu lama dan terus memberikan manfaat bagi warga Dusun 1 maupun Dusun 2.

Bagi Khabib, jembatan tersebut bukan sekadar bangunan penghubung. Kehadirannya menjadi simbol terbukanya akses masyarakat Kuala 12 terhadap berbagai aktivitas yang sebelumnya terhambat oleh kondisi geografis.

Dengan nada bercanda, Danrem bahkan menyebut jembatan tersebut berpotensi menjadi salah satu ikon Desa Kuala 12 dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, termasuk lokasi foto dan prewedding.

Namun di balik canda tersebut, pesan utamanya tetap jelas: jembatan sepanjang 120 meter itu harus benar-benar menjadi fasilitas publik yang aman, bermanfaat, dan dipelihara bersama.

“Harapannya bisa lama dan jembatan ini merupakan salah satu ikon di Desa Kuala 12, bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” tutup Khabib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *