Kabut Asap Masih Selimuti Kayuagung, Efektivitas Penanganan Karhutla dan Anggaran Rp20 Miliar OKI Disorot

Nasional201 Dilihat

Jejakkasus News|OKI — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), terutama Kota Kayuagung. Kondisi asap yang terasa lebih pekat pada pagi hari menjadi perhatian masyarakat, di tengah laporan kualitas udara Palembang yang sempat berada pada kategori berbahaya.

OKI merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas karhutla cukup tinggi. Sebanyak 126 titik panas terdeteksi di sembilan desa di Kecamatan Cengal. Tim gabungan bersama TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni dan masyarakat terus melakukan pemantauan, pemadaman, penyekatan serta pendinginan untuk mencegah api meluas.

Para Bintara Pembina Desa (Babinsa) juga turut berjibaku di lapangan. Mereka membantu proses pemadaman dan pendinginan di lokasi kebakaran, sekaligus mendukung upaya pencegahan agar api tidak kembali meluas.

Di tengah upaya tersebut, perhatian publik tertuju pada efektivitas dukungan anggaran. Pemerintah Kabupaten OKI mendapat Bantuan Presiden (Banpres) sebesar Rp20 miliar untuk memperkuat penanganan karhutla.

Namun, kabut asap yang masih terasa pada pagi hari di Kayuagung memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana dukungan anggaran tersebut telah memberikan dampak nyata terhadap penanganan di lapangan. Masyarakat berhak memperoleh informasi mengenai penggunaan dana, program yang telah dilaksanakan, lokasi kegiatan, serta hasil yang telah dicapai.

Sementara itu, Wakil Bupati OKI Supriyanto beberapa waktu lalu saat dikonfirmasi terkait anggaran penanganan karhutla mengarahkan pertanyaan tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI.

“Tanya langsung ke BPBD,” balas Supriyanto saat dikonfirmasi.

Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada Bupati OKI terkait persoalan tersebut. Namun, hingga berita ini disusun, Bupati OKI maupun Sekda OKI belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai penggunaan dan realisasi anggaran karhutla tersebut.

Sementara itu, informasi yang diterima media menyebutkan uang semangat yang disebut Gubernur Sumsel bagi relawan penanganan karhutla sebesar Rp150 ribu hingga kini disebut belum diterima. Informasi tersebut masih memerlukan konfirmasi dari pihak terkait.

Persoalan anggaran dan insentif tersebut tidak mengesampingkan kerja para petugas dan relawan yang tetap berada di lapangan. Babinsa, BPBD, Manggala Agni, kepolisian dan masyarakat menghadapi medan serta kondisi asap dalam upaya memadamkan kebakaran.

Dengan masih adanya kabut asap pada pagi hari dan aktivitas karhutla di sejumlah wilayah, pemerintah daerah bersama Satgas Karhutla perlu memperkuat deteksi dini, patroli, pemadaman, pendinginan serta perlindungan masyarakat dari paparan asap.

Efektivitas penanganan karhutla pada akhirnya perlu dilihat dari hasil yang dapat dirasakan masyarakat, termasuk berkurangnya titik api dan asap serta meningkatnya perlindungan terhadap warga. (rls/Tim Red PPWI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *