www.jejakkasusnews.com |Palopo, 15 Oktober 2026 – Aula Saokotae, Kota Palopo, bergemuruh oleh semangat kebangkitan pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Bukan sekadar rutinitas seremonial biasa, Seminar Regional Sejarah dan Kebudayaan Luwu bertajuk “Mengurai Akar Peradaban Tana Luwu” menjelma menjadi gelanggang intelektual yang luar biasa hidup.
Ruangan dipenuhi antusiasme peserta yang meluap-luap. Rentetan pertanyaan tajam, perdebatan hangat, hingga usulan konstruktif silih berganti disuarakan oleh para pemangku adat, akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat.
Mereka menolak menjadi penonton pasif dan berbondong-bondong menyumbangkan gagasan nyata demi satu tujuan: meluruskan sejarah dan menyelamatkan muruah budaya Luwu.
Kegelisahan kolektif ini dipantik dengan lugas oleh Prof. Dr. Ir. Indar Chaerah Gunadin, S.T., M.T., IPM., Ketua Pelaksana sekaligus pendiri Komunitas Literasi I Lagaligo.
Ia menyoroti fenomena historiografi Tana Luwu yang selama ini didominasi dan ditulis oleh pihak luar. Akibatnya, banyak literatur yang beredar dinilai kehilangan ruh lokalitasnya, kurang memahami akar peradaban yang sebenarnya, dan sering kali meminggirkan entitas masyarakat pedalaman.
“Kegiatan ini diadakan untuk memantik kesadaran bija To Luwu agar mulai peduli, mau menggali, dan pada akhirnya berani menuliskan sendiri narasi sejarah Tana Luwu secara otentik dan berdaulat,” tegas Prof. Indar.
Langkah berani ini pun mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Kota Palopo. Mewakili Wakil Wali Kota Palopo yang sedianya hadir, namun harus mengikuti agenda lain pada waktu yang bersamaan, Staf Ahli Bidang Kesra, Drs. Taufik Gurrahman, M.Si., secara resmi membuka kegiatan seminar tersebut.
Dalam penyampaiannya, Taufik sangat mengapresiasi kegiatan tersebut dan melihat inisiatif ini sebagai benteng penyelamat cagar budaya Tana Luwu dari pengikisan zaman.
Kajian Peradaban Luwu Melalui Berbagai Perspektif
Dipandu oleh moderator yang piawai, Drs. H. Baharuddin Solongi, M.Si., yang merajut benang merah antargagasan, jalannya seminar terasa begitu dinamis dan bergelora.
Tidak ada ruang bagi keheningan yang pasif. Setiap pergantian slide dan lontaran argumen dari panggung disambut dengan tatapan fokus, coretan catatan yang cepat, hingga kerut kening peserta yang larut dalam perenungan mendalam.
Bahkan, sering kali sebelum sesi tanya jawab resmi dibuka, gemuruh tepuk tangan spontan dan anggukan persetujuan dari para pemangku adat serta akademisi pecah memenuhi ruangan.
Hal ini terjadi setiap kali narasumber berhasil menyentuh “titik nadi” kegelisahan sejarah yang selama ini terpendam di batin masyarakat Luwu.
Dinamika intelektual yang hidup ini dipicu oleh diskursus tajam dari lima narasumber utama.
Masing-masing membedah kepingan peradaban Luwu dari sudut pandang yang spesifik dan komprehensif, mulai dari kacamata arkeologi, etnolinguistik, tradisi lisan, hingga fondasi kelembagaan adat.
Prof. Dr. Ir. Indar Chaerah Gunadin, S.T., M.T., IPM.
Prof. Dr. Ir. Indar Chaerah Gunadin mematahkan mitos bahwa Luwu hanyalah rahim tunggal etnis Bugis.
Melalui data arkeologi OXIS (Origin of Complex Society in South Sulawesi) dan jejak migrasi purba, ia menyampaikan bahwa Kedatuan Luwu adalah Umbrella Civilization atau Peradaban Payung yang multietnis.
Komunitas asli pedalaman seperti Toala, Lemolang, Wotu, Padoe, Rongkong, Seko, dan Rampi telah mandiri dan menguasai teknologi metalurgi besi-nikel di kawasan Danau Matano sejak abad ke-4 SM, jauh sebelum gelombang migrasi pesisir pada abad ke-13 M.
H. Nawawi S. Kilat, S.H., M.H.
H. Nawawi S. Kilat, S.H., M.H., meluruskan anakronisme sejarah dengan menunjuk Ussu dan Wotu Lama di kaki Gunung Lampenai sebagai Ontona, atau pusat awal mula peradaban Luwu.
Ia mengoreksi narasi yang keliru mengenai Cerekang. Berdasarkan ekskavasi yang dirujuk dalam paparannya, Cerekang baru berkembang pada pertengahan abad ke-15 M, sementara Wotu dan Ussu merupakan simpul niaga purba Teluk Bone yang jauh lebih tua dan menjadi latar situs kosmologi purba dalam epik I La Galigo.
Dr. Suaedi, S.Pd., M.Si.
Direktur Politeknik Dewantara
Dr. Suaedi, S.Pd., M.Si., mengingatkan kembali pada falsafah luhur Wanua Mappatuwo Naewai Alena dan sistem demokrasi tradisional Luwu yang luar biasa maju.
Keputusan adat tertinggi di Luwu, menurutnya, sejatinya berada di tangan rakyat, bukan sekadar titah raja.
Ia juga menantang generasi muda untuk tidak hanya menjadi ahli waris, tetapi menjadi pencipta kebudayaan baru yang merawat kebhinekaan 12 suku dan sembilan bahasa daerah di Tana Luwu.
Hj. Andi Syarifah Muhaeminah, S.E., M.Si.
Makole Baebunta/Opu Daengna Puteri
Hj. Andi Syarifah Muhaeminah, S.E., M.Si., menggetarkan forum dengan epik kepahlawanan Andi Mannenne Opu To Pawennei pada Perang Luwu 1905, yang memilih gugur ketimbang tunduk pada Korte Verklaring Belanda.
Ia juga menegaskan kokohnya kesetaraan gender dalam struktur adat Luwu serta pentingnya empat pilar kepemimpinan, yakni Lampu atau kejujuran, Acca atau kecerdasan, Getteng atau keteguhan, dan Siri’ na Pesse yang dimaknai sebagai harga diri dan empati.
Andi Syaifuddin Kaddiraja, S.E.
Maddika Bua
Andi Syaifuddin Kaddiraja, S.E., membedah fungsi strategis lembaga adat dalam struktur Ana’ Tellue dan menyerukan kolaborasi aksi nyata antara tokoh adat, akademisi, dan pemerintah untuk mengintegrasikan sejarah lokal ke dalam sistem pendidikan formal.
Dari Ruang Diskusi Menuju Gebrakan Nyata
Antusiasme dan adu gagasan yang mewarnai sepanjang acara tidak dibiarkan menguap begitu saja.
Forum strategis ini berhasil mengkristalkan dua rekomendasi historis yang siap dikawal perwujudannya.
Koreksi Penamaan Datu Luwu XV
Rekomendasi pertama adalah mendesak perubahan penulisan nama pada papan pemakaman dari Andi Patiware menjadi La Pati Wara.
Forum menyampaikan bahwa fakta historis menunjukkan gelar “Andi” baru diadopsi pada abad ke-20 pada era kolonial Belanda. Karena itu, penggunaannya untuk tokoh masa lampau dinilai sebagai sebuah bias sejarah.
Legitimasi Identitas “To Luwu”
Rekomendasi kedua adalah mendorong seluruh pemerintah daerah dan DPRD di Luwu Raya, yakni Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Luwu Timur, agar mendesak pemerintah pusat untuk mencantumkan “To Luwu” pada kolom identitas suku/bangsa di dokumen kependudukan dan pengurusan berkas resmi lainnya.
Langkah ini dinilai krusial agar identitas kultural bija To Luwu tidak melebur paksa ke dalam entitas suku lain di Sulawesi Selatan.
Dari Seminar Menuju Buku Sejarah dan Kebudayaan Luwu
Seluruh pergolakan pemikiran, bukti arkeologis, kajian bahasa, dan tradisi lisan dari seminar yang sangat dinamis ini kini tengah diramu dengan teliti untuk dilahirkan kembali dalam wujud Buku Sejarah dan Kebudayaan Luwu. Namun, ambisi kolektif ini nyatanya tidak akan berhenti pada sekadar pencetakan lembaran kertas.
Buku ini diproyeksikan menjadi sebuah episentrum literasi lokal, sebuah karya monumental yang mengembalikan kedaulatan narasi sepenuhnya ke tangan bija To Luwu. Ia tidak lagi ditulis dari kacamata bias “orang luar”, melainkan murni lahir dari rahim kesadaran masyarakatnya sendiri.
Lebih dari itu, peluncuran buku ini kelak diharapkan mampu memberi warna baru pada panggung historiografi nasional, sekaligus membuktikan bahwa peradaban dari ufuk Sulawesi Selatan ini memiliki fondasi kemajuan yang jauh mendahului zamannya.
Bagi generasi penerus Tana Luwu anak-anak muda yang mungkin selama ini gagap mencari akar identitasnya di tengah gempuran modernisasi buku ini akan menjadi kompas yang otentik. Ia adalah warisan intelektual yang akan memutus rantai amnesia sejarah, sekaligus menjadi kurikulum muatan lokal yang menanamkan kebanggaan sedari bangku sekolah.
Pada akhirnya, riuh rendah dan antusiasme luar biasa di Aula Saokotae hari itu telah membuktikan satu dalil mutlak: sejarah selalu menjadi milik mereka yang memegang pena. dan hari ini, bija To Luwu telah merebut kembali pena itu untuk menuliskan sendiri kebesaran takdir peradabannya.
Mari kita nantikan bersama mahakarya ini.











