Pendulang Emas Tewas Diserang Kelompok Bersenjata di Yahukimo, TNI Kerahkan Pasukan Elite dan Helikopter

Nasional, Papua21 Dilihat

Jejakkasus News |YAHUKIMO – Delapan pendulang emas dilaporkan tewas setelah menjadi korban penyerangan brutal yang diduga dilakukan kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo di wilayah Korowai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Insiden berdarah tersebut terjadi di kawasan pedalaman yang dikenal memiliki medan ekstrem dan sulit dijangkau.

Kelompok pelaku mengklaim para korban merupakan aparat keamanan yang menyamar. Namun pihak TNI membantah tudingan tersebut dan menegaskan seluruh korban adalah warga sipil yang bekerja sebagai pendulang emas di lokasi kejadian.

Merespons peristiwa itu, Komando Operasi TNI Habema langsung mengerahkan pasukan elite serta dukungan helikopter untuk mengevakuasi korban sekaligus melakukan pengejaran terhadap para pelaku penyerangan.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, mengatakan proses evakuasi menghadapi tantangan berat akibat kondisi geografis yang sulit serta situasi keamanan yang masih rawan gangguan kelompok bersenjata.

“Aparat gabungan terus melakukan pengamanan dan pengejaran guna memastikan situasi tetap terkendali serta melindungi masyarakat sipil di wilayah sekitar,” ujarnya.

TNI mengecam keras aksi kekerasan tersebut dan menilai pembunuhan terhadap warga sipil merupakan tindakan yang melanggar hukum dan hak asasi manusia.

Insiden ini kembali menyoroti tingginya eskalasi konflik bersenjata di Papua, khususnya di wilayah Yahukimo yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi lokasi serangan terhadap warga sipil maupun aparat keamanan.

Konflik berkepanjangan di wilayah pedalaman Papua tidak hanya memicu jatuhnya korban jiwa, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, munculnya pengungsian warga, hingga terganggunya stabilitas keamanan daerah.

Pemerintah menegaskan akan terus meningkatkan operasi keamanan di Papua guna menjaga stabilitas wilayah dan memberikan perlindungan kepada masyarakat sipil dari ancaman kelompok bersenjata.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *